Kamis, 02 Maret 2017

TERMODINAMIKA

A.Hukum ke Nol Termodinamika
Konsep temperatur,seperti halnya konsep haya yang telah kita pelajari pada bab sebelumnya, berasal dari persepsi dan interpretasi manusia terhadap gejala alam yang diamati.Bedasarkan pengalaman sehari-hari, temperatur diidentifikasikan sebagai gejala yang berhubungan dengan ukuran panas dan dingin suatu benda.Tubuh kita ibarat sensor alami yang dapat memebedakan temperatur benda.
Hanya saja, tidak seperti termometer, tubuh kita tidak dapat menunjukkan berapa besar temperatur yang suatu benda dalam skala angka.Seperti yang telah Anda pelajari pada bab kalor, jika dua benda yang memiliki temperatur berbeda diinteraksikan satu sama lain, akan terjadi perpindahan kalor yang efeknya bisa kita deteksi dengan adanya perubahan temperatur.Secara umum, jika dua benda berada dalam kesetimbangan termal dengan benda ketiga maka benda ketiga tersebut juga berada dalam kesetimbangan termal satu sama lain.Pernyataan tersebut dikenal dengan Hukum ke Nol Termodinamika TA = TB dan TB= TC, maka TA = TC

B.Hukum I Termodinamika
Mari kita tinjau beberapa contoh terjadinya proses termodinamika.Misalnya terdapat gas di dalam suatu ruang berbentuk silinder yang dielngkapi dengan piston pada bagian atas silinder. Gas tersebut di kompres hingga mencapai tekanan yang maksimum.Tekanan maksimum mengakibatkan volume gas minimum,sehingga jarak antar partikel gas menjadi semakin kecil. Keadaan ini mengakibatkan peluang terjadinya benturan antar partikel akan semakin besar yang dapat menghasilkan panas. Sebaliknya, jika volume gas diperbesar (dengan memperkecil tekanan tanpa diberi kalor), maka temperatur gas akan turun
Molekul pada permukaan yang memiliki ikatan terlemah akhirnya lepas dan menjadi uap. Kemudian tekanan uap inilah yang akan menghasilkan kerja.Peristiwa ini drangkum dalam Hukum I Termodinamika yang berbunyi : "Besar perubahan kalor dalam sistem adalah sama dengan jumlah perubahan energi dalam sistem dan kerja yang dilakukan".Secara matematis, bunyi dari Hukum I Termodinamika tersebut dapat ditulis dalam bentuk persamaan. ∆Q = ∆U + W
  • Dengan : ∆Q = perubahan kalor dalam sistem.

                         Sistem melepaskan kalor → negatif(-)
                         Sistem menerima kalor → positif(+)

                         ∆U = perubahan energi dalam sistem (energi dalam)
                         Energi dalam sistem berkurang→negatif(-)(jika suhu turun)
                         Energi dalam sistem bertambah→positif(+)(jika suhu bertambah)

                         W = kerja sistem
                         Sistem menerima kerja→negatif(-)(biasanya dalam proses kompresi)
                         Sistem melakukan kerja→positif(+)

D. Jenis-Jenis Proses Termodinamika
1. Proses adiabatik
      Proses adiabatik adalah suatu proses termodinamika di mana tidak terjadi perpindahan kalor pada saat berlangsung, baik dari lingkungan ke sistem maupun sebaliknya. Jadi, selama proses berlangsung kalor dalam sistem termodinamika selalu konstan,sehingga perubahan kalor ∆Q = 0. Jika kita terapkan pada Hukum I Termodinamika, akan diperoleh ∆U = -W
2. Proses isotermal
   Proses isotermal adalah suatu proses termodinamika yang pada saat prosesnya berlangsung, temperatur dalam sistem konstan. Jadi temperatur akhir dari sistem(setelah proses berlangsung) sama dengan temperatur awal sistem(setelah proses berlangsung). Kita tinaju sejumlah gas dalam silinder yang dilengkapi dengan piston.Ketika gas menerima kalor luar disertai dengan penambahan volume gas, maka temperatur gas dapat dijaga konstan.
3. Proses isobarik
     Proses isobarik merupakan suatu proses yang terjadi pada tekanan konstan. Jadi, tekanan dalam sistem sebelum dan sesudah proses berlangsung adalah sama. Seperti yang terjadi pada siklus diesel, sistem menerima kalor pada saat terjadinya pertambahan volume sehingga tekanan dalam sistem menjadi konstan. Jika sebagai sistem adalah gas ideal dengan persamaan PV = nRT, maka akan terjadi perbandingan antara volume sistem terhadap temperatur sistem akan menjadi konstan.
4. Proses isokhorik
      Proses isokhorik merupakan suatu proses termodinamika yang terjadi pada volume konstan. Jadi volume sistem sebelum dan sesudah proses berlangsung adalah sama. Dalam proses ini sistem sedang tidak melakukan atau menerima kerja (W= 0) seperti yang terjadi pada Siklus Otto. Sistem menerima dan melepaskan kalor pada saat volume konstan. Sehingga pada saat menerima kalor luar, tekanan dalam sistem meningkat tajam hingga mencapai tekanan maksimum dan setelah sistem melepaskan kalor, tekanan dalam sistem turun hingga mencapai tekanan yang minimum.

Rabu, 04 Januari 2017

IMPULS, MOMENTUM, DAN TUMBUKAN

A. Impuls dan Momentum
Sebelum kita membahas lebih jauh lagi tentang hubungan antara implus dan momentum,agar lebih mudah dalam memahami konsep ini,kita harus tahu terlebih dahulu definisi impuls dan momentum.
Impuls adalah besarnya vektor gaya yang bekerja terhadap benda dalam selang waktu tertentu.Sedangkan Momentum (disimbolkan dengan P) adalah massa benda m (dalam satuan kg) dikalikan dengan kecepatan v (dalam satuan m/s).
B. Hukum Kekekalan Momentum
Bedasarkan Hukum II Newton diketahui bahwa gaya total yang bekerja terhadap benda adalah∑F = ma
= m v = m∆v
    ∆t   ∆t
Hukum kekekalan momentum menyatakan bahwa “jika tidak ada gaya luar yang bekerja pada sistem, maka momentum total sesaat sebelum sama dengan momentum total sesudah tumbukan”. ketika menggunakan persamaan ini, kita harus memerhatikan arah kecepatan tiap benda.
c. Tumbukan
Tumbukan merupakan peristiwa tabrakan antara dua benda karena adanya gerakan. Dalam tumbukan, dua benda dapat sama-sama bergerak, dapat juga satu benda bergerak dan benda lainnya tidak bergerak. Selain itu, arah gerak dua benda dapat searah dan dapat berlawanan arah.Jadi,jumlah momentum kedua bola sebelum terjadi tumbukan adalah sama dengan jumlah momentum kedua bola setelah terjadi tumbukan. Ungkapan ini tak lain merupakan bunyi Hukum Kekekalan Momentum
D. Koefisien Kelentingan
Bola yang dilemparkan ke dinding atau dijatuhkan ke lantai termasuk ke dalam peristiwa tumbukan, sehingga dapat kita analisis dengan menggunakan konsep impuls dan momentum.Koefisien lenting atau lebih dikenal sebagai koefisien restitusi (dalam bahasa Inggris: COR atau coefficient of restitution), adalah suatu koefisien yang bernilai pecahan antara 0 dan 1 yang merupakan rasio besarnya kecepatan relatif sesudah dengan sebelum tumbukan dua buah benda.Konstanta bahan ini kita kenal dengan Koefisien restitusi, dapat kita definisikan sebagai perbandingan laju relatif benda setelah terjadi tumbukan terhadap laju relatif benda sebelum terjadi tumbukan, yang dilambangkan dengan e.
e = v'
    v
dengan: e = koefisien kelentingan
        v' = laju relatif benda setelah tumbukan (m/s)
        v = laju relatif benda sebelum tumbukan (m/s).
E. Jenis-jenis Tumbukan
Bedasarkan besar koefisien kelentingannya, maka tumbukan dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu tumbukan elastis, tumbukan nonelastis dan tumbukan tidak elastis sama sekali.
-Tumbukan elastis sempurna
Tumbukan elastis terjadi jika nilai e = 1. Dalam hal ini berlaku hukum kekekalan momentum dan kekekalan energi kinetik sehingga moemntum dan energi kinetik selalu konstan.
-Tumbukan elastis sebagian
Kebanyakan tumbukan berada dalam konsisi ini, yaitu tumbukan tidak elastis. Koefisien restitusi tumbukan e berada di antara 0 dan 1 (0 < e < 1). Dalam kondisi ini, hanya momentum saja yang kekal, sedangkan energi kinetik tidak. Energi kinetik sesudah tumbukan.
-Tumbukan tidak elastis sama sekali
Terjadi jika e = 0. Dalam kondisi ini, benda-benda yang bertumbukan saling menempel satu sama lain, misalnya terjadi ketika mobil menabrak pohon atau sebuah kelereng yang dilemparkan ke arah plastisin dan melekat padanya. Kecepatan akhir dari benda-benda yang bertumbukan adalah sama. 

Jumat, 18 September 2015

RPL

Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa perangkat lunak (RPL, atau dalam bahasa Inggris: Software Engineering atau SE) adalah satu bidang profesi yang mendalami cara-cara pengembangan perangkat lunak termasuk pembuatan, pemeliharaan, manajemen organisasi pengembanganan perangkat lunak dan manajemen kualitas. IEEE Computer Society mendefinisikan rekayasa perangkat lunak sebagai penerapan suatu pendekatan yang sistematis, disiplin dan terkuantifikasi atas pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan perangkat lunak, serta studi atas pendekatan-pendekatan ini, yaitu penerapan pendekatan engineering atas perangkat lunak. rekayasa perangkat lunak adalah pengubahan perangkat lunak itu sendiri guna mengembangkan, memelihara, dan membangun kembali dengan menggunakan prinsip reakayasa untuk menghasilkan perangkat lunak yang dapat bekerja lebih efisien dan efektif untuk pengguna. kriteria yang dapat digunakan sebagai acuan dalam merekayasa perangkat lunak:
1. dapat terus dirawat dan dipelihara(maintainability)
2. dapat mengikuti perkembangan teknologi(dependability)
3. dapat mengikuti keinginan pengguna(robust)
4. efektif dan efisien dalam menggunakan energi dan penggunaannya
5. dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan(usability).